BALITA ; BGM

13 APRIL 2011


Karakteristik Keluarga Balita Dengan Berat Badan DiBawah Garis Merah



BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Di Indonesia dan di negara berkembang masalah gizi pada umumnya masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), masalah Anemia Besi,masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Masalah Kurang Vitamin A (KVA), dan masalah obesitas terutama di kota-kota besar.
Berdasarkan Soekirman dalam materi Aksi Pangan dan Gizi nasional, Masalah gizi kurang pada  balita umumnya disebabkan oleh beberapa faktor yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung.  Penyebab langsung yaitu makanan anak dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak. Penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Faktor-faktor tersebut sangat terkait dengan tingkat pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan keluarga. (Depkes, 2000)
Menurut Depkes (2004) yang dikutip Biro Pusat Statistik tahun 2003 sekitar 5 juta anak balita (27,5%) yang kekurangan gizi, lebih kurang 3,6 juta anak (19,2%) dalam tingkat gizi kurang, dan 1,5 juta anak gizi buruk (8,3%). Khususnya untuk mereka yang berumur di bawah 5 tahun. (Depkes, 2004)
Angka kematian ibu dan angka kematian bayi senantiasa menjadi indikator keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan.  Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 (SDKI 2007), Angka Kematian Bayi sebesar 34 kematian/1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Balita sebesar 44 kematian/1000 kelahiran hidup. Namun, Nusa Tenggara Barat masih menduduki urutan kedua tertinggi penyumbang AKB dan AKABA yaitu 72 per 1000 kelahiran dan 92 per 1000 kelahiran hidup. (SDKI,2007)
Di Nusa Tenggara Barat (NTB), tercatat jumlah warga yang mengalami gizi kurang hingga Juli 2010 mencapai 319 orang. Pada Kabupaten Lombok Barat terdapat  65 kasus gizi kurang. (Rahayu,2010)
Dari data Dikes Kabupaten Lombok Barat diperoleh jumlah kejadian balita berat badan dibawah garis merah (BGM) dari 15 puskesmas wilayah Lombok Barat yaitu Puskesmas Meninting didapatkan 110 (3,46%) balita BGM dari 3188 balita yang ada, Puskesmas Gunung Sari didapatkan 50 (1,77%) balita BGM dari 2802 balita yang ada, Puskesmas Penimbung didapatkan 38 (1,83%) balita BGM dari 2050 balita yang ada, Puskesmas Lingsar didapatkan 116 (4,02%) balita BGM dari 2892 balita yang ada, Puskesmas Sigerongan didapatkan 73 (4,24%) balita BGM dari 1721 balita yang ada, Puskesmas Narmada didapatkan 131 (4,30%) balita BGM dari 3054 balita yang ada, Puskesmas Sedau didapatkan 66 (1,61%) balita BGM dari 4116 balita yang ada, Puskesmas Kediri didapatkan 32 ( 0,75%) balita BGM dari 4251 balita yang ada, Puskesmas Kuripan 283 (9,03%) balita BGM dari 3129 balita yang ada, Puskesmas Labuapi didapatkan 88 (3,19%) balita BGM dari 2747 balita yang ada, Puskesmas Perampuan didapatkan 124 (4,60%) balita BGM dari 2699 balita yang ada, Puskesmas Jakem didapatkan 89 (2,50%) balita BGM dari 3555 balita yang ada, Puskesmas Sekotong 98 (6,20%) balita BGM dari 1583 balita yang ada, Puskesmas pelangan didapatkan 57 (2,38%) balita BGM dari 2370 balita yang ada dan Puskesmas Gerung 326 (6,30%) balia BGM dari 5172 balita yang ada. Sehingga diperoleh jumlah balita di Kabupaten Lombok Barat pada ptahun 2009 sebanyak 45.327 balita dengan jumlah balita berat badan dibawah garis merah sebanyak 1680 balita, dimana dari data tersebut terlihat kejadian balita berat badan dibawah garis merah (BGM tertinggi di Puskesmas Kuripan  yaitu sebanyak 283 (9,03%) balita BGM dari 3129 total balita yang ada (Dikes Kabupaten Lobar, 2009).
Berdasarkan keadaan tersebut penulis tertarik untuk mengadakan penelitian sederhana tentang “Karakteristik Keluarga Balita Dengan Berat Badan Di Bawah Garis Merah (BGM) di wilayah kerja Puskesmas Kuripan Tahun 2011”
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Karakteristik Keluarga Balita Dengan Berat Badan Di Bawah Garis Merah (BGM) di Wilayah Kerja Puskesmas Kuripan Tahun 2011?
C.   Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana karakteristik keluarga balita dengan berat badan di bawah garis merah (BGM) di wilayah kerja Puskesmas Kuripan tahun 2011.
2.    Tujuan Khusus
a.    Mengidentifikasi karakteristik keluarga balita dengan berat badan di bawah garis merah (BGM) berdasarkan tingkat pendidikan kepala keluarga.
b.    Mengidentifikasi karakteristik keluarga balita dengan berat badan di bawah garis merah (BGM) berdasarkan Pendapatan keluarga.
c.    Mengidentifikasi karakteristik keluarga balita dengan berat badan di bawah garis merah (BGM) berdasarkan pola asuh anak.
d.    Mengidentifikasi karakteristik keluarga balita dengan berat badan di bawah garis merah (BGM) berdasarkan jumlah anggota keluarga
e.    Mengidentifikasi karakteristik keluarga balita dengan berat badan di bawah garis merah (BGM) berdasarkan Sanitasi lingkungan keluarga.
D.   Manfaat Penelitian
1.    Manfaat Untuk Instansi Terkait
Sebagai sumber informasi untuk bahan pertimbangan bagi Puskesmas guna menyusun strategi lebih lanjut sehingga dapat menurunkan insiden BGM
2.    Manfaat Untuk Masyarakat
a.    Sebagai sumber informasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang gizi balita
b.    Meningkatkan kesadaran ibu dan keluarga untuk memperbaiki pola asuh terhadap balita
3.    Manfaat Untuk Penelitian Yang Akan Datang
Dapat dijadikan data dasar untuk penelitian selanjutnya terutama penelitian yang berhubungan dengan terjadinya BGM.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   TINAJUAN TEORI
1.      Karakteristik
a.      Pengertian
Karakteristik adalah ciri-ciri dari individu yang terdiri dari demografi seperti jenis-jenis kelamin, umur, serta status sosial seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, ras, status ekonomi dan sebagainya. Menurut Efendi, demografi berkaitan dengan struktur penduduk, umur, jenis kelamin, dan status ekonomi sedangkan data cultural mengangkat tingkat pendidikan, pekerjaan, agama, adat istiadat, penghasilan dan sebagainya (Ayuria,2009).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ciri-ciri khusus atau mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu.
2.  Karakteristik keluarga
     Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi kurang. Menurut UNICEF (2008) yaitu : (1) Kurangnya asupan gizi dari makanan (2) Akibat terjadinya penyakit infeksi. Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk yaitu: (1) Faktor ketersediaan pangan (2) Perilaku dan pendidikan dalam pengolahan pangan dan pengasuhan anak; (3) Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI, 2006), ada 3 faktor penyebab gizi buruk pada balita, yaitu: (1) Keluarga miskin/ sosial ekonomi (2) Ketidaktahuan orang tua/ pengetahuan (3) Penyakit bawaan pada anak, (Hardjoprakoso, 2008)
a.    Tingkat pendidikan keluarga
1)    Pengertian
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar (SD), pendidikan menengah (SMP dan SMA), sampai pendidikan tinggi (perguruan Tinggi). (Wikipedia,2011)
Berdasarkan pengertian pendidikan yang teah dijelaskan sebelumnya maka dapat diidentifikasikan beberapa ciri pendidikan antara lain :
a)    Pendidikan mengandung tujuan yaitu kemampuan untuk berkembang, sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidup.
b)    Untuk mencapai tujuan itu, pendidikan melakukan usaha yang terencana dalam memiih isi, strategi dan teknik pendidikan.
c)    Kegiatan pendidikan dilakukan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (formal dan non formal)



2)    Jalur pendidikan
Menurut UU RI no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, jalur pendidikan terdiri dari :
a)    Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
b)    Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan dan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri
c)    Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3)    Jenjang pendidikan
Menurut UU RI no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jenjang pendidikan formal terdiri atas :
a)    Pendidikan dasar
Merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
Pendidikan dasar berbentuk Sekolah dasar (SD), dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsnawiyah (Mts) atau yang sederajat.  
b)    Pendidikan menengah
Merupakan lanjutan pendidikan dasar. Terdiri atas pendidikan menengah umum dan kejujuran seperti Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliah Kejujuran (MAK) atau yang sederajat.
c)    Pendidikan tinggi
Meupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan Diploma, Sarjana, Magister, Specialis dan Doktor yang diselenggarakan oleh pergurun tinggi (Hasbullah, 2005)
4)    Pendidikan dan Gizi
Bagi keluarga dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih mudah menerima informasi kesehatan khususnya di bidang gizi, sehingga dapat menambah pengetahuannya dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Depkes RI,2003)


b.    Pendapatan  keluarga
Pendapatan adalah segala sesuatu yang diperoleh atau diterima oleh seseorang baik berupa barang atau uang sebagai balas jasa yang dihitung dalam perkapita, perminggu, perbulan.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005,  Kriteria atau batasan keluarga miskin Indonesia  jika pendapatan keluarga kurang dari Rp. 600.000 per bulan.(Gema,2010)
Tingkat pendapatan merupakan faktor yang menentukan dalam kualitas dan kuantitas pada makanan. Pendapatan yang meningkat maka berpengaruh terhadap perbaikan kesehatan dan keadaan gizi. Sedangkan pendapatan yang rendah akan mengakibatkan lemahnya daya beli sehingga tidak memungkinkan untuk mengatasi kebiasaan makan dengan cara-cara tertentu secara efektif terutama untuk anak mereka. (Notoatmodjo,2007)
c.    Pola Asuh
Agar pola hidup anak bisa sesuai dengan standar kesehatan, di samping harus mengatur pola makan yang benar, juga tak kalah pentingnya mengatur pola asuh yang benar pula. Pola asuh yang benar bisa ditempuh dengan memberikan perhatian yang penuh kasih sayang pada anak, memberinya waktu yang cukup untuk menikmati kebersamaan dengan seluruh anggota keluarga (Perangin-angin, 2006).
Pola asuh adalah kemampuan keluarga dan masyarakat untuk menyediakan waktu, perhatian, dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan sebaik-baiknya secara fisik, mental dan sosial. Pengasuhan merupakan faktor yang sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan anak berusia di bawah lima tahun. Masa anak usia 1-5 tahun (balita) adalah masa dimana anak masih sangat membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumlah yang memadai. Pada masa ini juga, anak-anak masih sangat tergantung pada perawatan dan pengasuhan ibunya (Sarah, 2008).
Adapun tipe-tipe pola asuh anak :
1)    Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang cuek terhadap anak. Jadi apa pun yang mau dilakukan anak diperbolehkan seperti tidak sekolah, bandel, melakukan banyak kegiatan maksiat, pergaulan bebas negatif, matrialistis, dan sebagainya.
Biasanya pola pengasuhan anak oleh orangtua semacam ini diakibatkan oleh orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, kesibukan atau urusan lain yang akhirnya lupa untuk mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Dengan begitu anak hanya diberi materi atau harta saja dan terserah anak itu mau tumbuh dan berkembang menjadi apa.
Anak yang diasuh orangtuanya dengan metode semacam ini nantinya bisa berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, merasa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki kemampuan sosialisasi yang buruk, kontrol diri buruk, salah bergaul, kurang menghargai orang lain, dan lain sebagainya baik ketika kecil maupun sudah dewasa.
2)    Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan, keras dan kaku di mana orangtua akan membuat berbagai aturan yang saklek harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Orang tua akan emosi dan marah jika anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tuanya.
Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang-tua yang telah membesarkannya.
Anak yang besar dengan teknik asuhan anak seperti ini biasanya tidak bahagia, paranoid / selalu berada dalam ketakutan, mudah sedih dan tertekan, senang berada di luar rumah, benci orangtua, dan lain-lain. Namun di balik itu biasanya anak hasil didikan ortu otoriter lebih bisa mandiri, bisa menjadi orang sesuai keinginan orang tua, lebih disiplin dan lebih bertanggungjawab dalam menjalani hidup.
3)    Pola Asuh Otoritatif
Pola asuh otoritatif adalah pola asuh orangtua pada anak yang memberi kebebasan pada anak untuk berkreasi dan mengeksplorasi berbagai hal sesuai dengan kemampuan anak dengan sensor batasan dan pengawasan yang baik dari orangtua. Pola asuh ini adalah pola asuh yang cocok dan baik untuk diterapkan para orang tua kepada anak-anaknya.
Anak yang diasuh dengan tehnik asuhan otoritatif akan hidup ceria, menyenangkan, kreatif, cerdas, percaya diri, terbuka pada orang tua, menghargai dan menghormati orangtua, tidak mudah stres dan depresi, berprestasi baik, disukai lingkungan dan masyarakat dan lain-lain. (Anonim,2008)

d.    Besar anggota keluarga
Hubungan antara laju kelahiran yang tinggi dan kurang gizi terlihat nyata pada masing-masing keluarga. Sumber pangan keluarga terutama mereka yang miskin akan lebih mudah memenuhi kebutuhan makannya jika yang harus dilayani jumlahnya sedikit. Besar keluarga mungkin berpengaruh terhadap distribusi makanan dalam keluarga. Keadaan demikian juga dapat mengakibatkan perhatian ibu terhadap perawatan anak menjadi berkurang,karena perhatian ibu dalam merawat dan membesarkan anak balita dapat terpengaruh bila banyak anak yang dimiliki. Bila besar keluarga bertambah maka porsi makanan untuk setiap anak berkurang. (Notoatmodjo,2007)
Menurut BKKBN, jumlah anggota keluarga kecil rata-rata adalah 4 orang. (Daniel,2005)
e.    Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan adalah Status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebaginya (Notoadmojo, 2007).
Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia. Rumah atau tempat tinggal manusia, dari zaman ke zaman mengalami perkembangan.
Syarat-syarat rumah yang sehat :
1)    Bahan bangunan
a)     Lantai : ubin atau semen adalah baik, namun tidak cocok untuk kondisi ekonomi pedesaan. Lantai kayu sering terdapat pada rumah-rumah orang yang mampu di pedesaan, dan inipun mahal. Oleh karena itu, untuk lantai rumah pedesaan cukuplah tanah biasa yang dipadatkan. Syarat yang penting disini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian dipadatkan dengan benda-benda yang berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang basah dan berdebu menimbulkan sarang penyakit.
b)     Dinding : Tembok adalah baik, namun di samping mahal, tembok sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis, lebih-lebih bila ventilasi tidak cukup. Dinding rumah didarerah tropis khususnya dipedesaan, lebih baik dinding atau papan. Sebab meskipun jendela tidak cukup, maka lubang-lubang pada dinding atau papan tersebut dapat merupakan ventilasi, dan dapat menambah penerangan alamiah.
c)      Atap Genteng : Atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Disamping atap genteng cocok untuk daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian, banyak masyarakat pedesaan yang tidak mampu untuk itu, maka atap daun rumbai atau daun kelapa pun dapat dipertahankan. Atap seng ataupun asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, di samping mahal juga menimbulkan suhu panas didalam rumah.
d)     Lain-lain (tiang, kaso dan reng)
Katu untuk tiang, bambu untuk kaso dan reng adalah umum di pedesaan. Menurut pengalaman bahan-bahan ini tahan lama. Tapi perlu diperhatikan bahwa lubang-lubang bambu merupakan sarang tikus yang baik. Untuk menghindari ini cara memotongnya barus menurut ruas-ruas bambu tersebut, maka lubang pada ujung-ujung bambu yang digunakan untuk kaso tersebut ditutup dengan kayu.
2)    Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan O2 didalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat.disamping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri, patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit.)
Fungsi kedua daripada ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan-ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus-menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi lainya adalah untuk menjaga agar ruangan selalu tetap didalam kelembaban (humuduty) yang optium.
Ada 2 macam ventilasi, yakni :
a)    Fungsi kedua dari pada ventaliasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran udara dan sebagainya. Di pihak lain ventilasi alamiah ini tidak menguntungkan, karena merupakan jalan masuknya nyamuk dan serangga lainya ke dalam rumah. Untuk itu harus ada usaha-usaha lain untuk melindung kita dari gigitan-gigitan nyamuk tersebut.
b)    Ventilasi buatan, yaitu dengan mempergunakan alat-alat khusus untuk mengalirkan udara tersebut, misalnya kipas angin, dan mesin penghisap udara. Tetapi jelas alat ini tidak cocok dengan kondisi rumah di pedesaan.
Perlu diperhatikan disini bahwa sistem pembuatan ventilasi harus dijaga agar udara tidak berhenti atau membalik lagi, harus mengalir. Artinya di dalam ruangan rumah harus ada jalan masuk dan keluarnya udara.
3)    Cahaya
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk kedalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari di samping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak cahaya didalam rumah akan menyebabkan silau, dam akhirnya dapat merusakan mata. Cahaya dapat dibedakan menjadi 2, yakni :
a)    Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya matahari ini sangat penting, karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya baksil TBC. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Seyogyanya jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurang-kurangnya 15% sampai 20% dari luas lantai yang terdapat didalam ruangan rumah. Perlu diperhatikan di dalam membuat jendela diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela disini, disamping sebagai ventilasi, juga sebagai jalan masuk cahaya.
Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan dusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding). Maka sebaiknya jendela itu harus di tengah-tenan tinggi dinding (tembok).
Jalan masuknya cahaya ilmiah juga diusahakan dengan geneng kaca. Genteng kaca pun dapat dibuat secra sederhana, yakni dengan melubangi genteng biasa waktu pembuatanya kemudian menutupnya dengan pecahan kaca.
b)    Cahaya buatan, yaitu menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya.
4)    Luas bangunan rumah
Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lanai bangunan tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). Hal ini tidak sehat, sebab di samping menyebabkan kurangnya konsumsi O2 juga bila salah satu anggota keluarga terkene penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5 – 3 m2 untuk tiap orang (tiap anggota keluarga).
5)    Fasilitas-fasilitas dalam rumah sehat
Rumah yang sehat harus mempunyai fasilitas-fasilitas sebagai berikut:
a)    Penyediaan air bersih yang cukup
b)    Pembuangan Tinja
c)    Pembuangan air limbah (air bekas)
d)    Pembuangan sampah
e)    Fasilitas dapur ruang berkumpul keluarga
Untuk rumah di pedesaan lebih cocok adanya serambi (serambi muka atau belakang).
Disamping fasilitas-fasilitas tersebut, ada fasilitas lain yang perlu diadakan tersendiri untuk rumah pedesaan, yakni:
a)    Gudang, tempat menyimpan hasil panen. Gudang ini dapat merupakan bagian dari rumah tempat tinggal tersebut, atau bangunan tersendiri.
b)    Kandang ternak. Oleh karena kandang ternak adalah merupakan bagian hidup dari petani, maka kadang-kadang ternak tersebut ditaruh di dalam rumah. Hal ini tidak sehat, karena ternak kadang-kadang merupakan sumber penyakit pula. Maka sebaiknya demi kesehatan, ternak harus terpisah dari rumah tinggal, atau dibikinkan kandang sendiri (Notoadmojo, 2007).
Keadaan sanitasi lingkungan yang kurang baik memungkinkan terjadinya berbagai jenis penyakit antara lain diare,kecacingan,dan infeksi saluran pencernaan. Apabila anak menderita infeksi saluran pencernaan, penyerapan zat-zat gizi akan terganggu yang menyebabkan terjadinya kekurangan zat gizi. Seseorang kekurangan zat gizi akan mudah terserang penyakit,dan pertumbuhan akan terganggu (Supariasa dkk,2001).
3.    Status Gizi Balita
a.    Pengertian
Status gizi itu pada dasarnya adalah keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan tubuh untuk tumbuh kembang terutama untuk anak balita, aktifitas, pemeliharaan kesehatan, penyembuhan bagi mereka yang menderita sakit dan proses biologis lainnya di dalam tubuh. (Depkes.RI 2008).
Ukuran yang digunakan dalam menentukan status gizi adalah berat badan, bisa juga tinggi badan yang didasarkan pada umur, ukuran ini biasa disebut dengan ukuran antropometri dan disajikan dalam bentuk indeks. Oleh karenanya hasil dimanfaatkan atau digunakan untuk Assesment Keadaan Gizi Induvidu ataupun juga penentuan status gizi masyarakat tentunya dengan menggunakan tabel antropomteri (bukan KMS). Untuk assesment status gizi induvidu dengan indeks BB/U dapat dilihat 4 kategori yaitu gizi lebih, gizi baik, gizi kurang dan gizi buruk. (lihat perbedaannya dengan KMS yang hanya untuk melihat Naik-Turun/Tetap dan BGM). Sementara untuk assesmen keadaan gizi masyarakat dapat menentukan prevalensi gizi lebih, baik, kurang dan buruk.
Berat Badan yang berada di Bawah Garis Merah (BGM) pada KMS merupakan perkiraan untuk menilai seseorang menderita gizi buruk, tetapi bukan berarti seseorang balita telah menderita gizi buruk, karena ada anak yang telah mempunyai pola pertumbuhan yang memang selalu dibawah garis merah pada KMS.
b.    Klasifikasi dan Penilaian Status Gizi Balita
Membahas mengenai masalah gizi, dapat digolongkan menjadi empat bagian, yaitu :
1)    Gizi baik, yaitu keadaan gizi baik pada seseorang terjadi jika adanya keseimbangan jumlah asupan (intake) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (required) oleh tubuh yang ditandai dengan berat badan.
2)    Gizi kurang, yaitu keadaan tidak sehat (patologik) yang timbul karena tidak cukup makan dan konsumsi energy kurang selama jangka waktu tertentu. Berat badan yang menurun adalah tanda utama dari gizi kurang.
3)    Gizi lebih, yaitu keadaan tidak sehat (patologik) yang disebabkan kebanyakan makanan dan konsumsi energi yang lebih banyak dari yang dibutuhkan tubuh untuk  jangka waktu yang panjang. Kegemukan merupakan tanda awal yang biasa dilihat dari keadaan gizi lebih.
4)    Gizi buruk, yaitu suatu kondisi dimana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.
Penilaian status gizi dapat diukur secara langsung dan tidak langsung yaitu :
1)    Ststus gizi secara langsung
a)     Antropometri, secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan kmposisi tubuh dari berbagai tingkay umur dan tingkat gizi. Antropometri digunakan untuk melihat
b)     Klinis, pemeriksaan  klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat, metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidak cukupan gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
c)      Biokimia, pemeriksaan specimen yang di uji secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh digunakan antara lain : darah, urine,dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.
d)     Biofisik, penentuan gizi secara biofisik adalah penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan.
2)     Status gizi secara tidak langsung
a)    Survey konsumsi makanan, metode enentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi
b)    Statistic vital, pengukuran status gizi dengan statistic vital adalah dengan menganalisis data beberapa  statistic kesehatan angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
c)    Ekologi, bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain.
Tabel 1. Status gizi berdasarkan indeks antropometri (Sumber : Yayah K. Husaini, Antropometri sebagai Indeks Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Medika, No 8 tahun XXIII,1997)
Status Gizi
Indeks
BB/U
TB/U
BB/TB
Gizi Baik
>80 %
>90 %
>90 %
Gizi Sedang
71 % - 80 %
81 % - 90 %
81 % - 90 %
Gizi Kurang
61 % - 70 %
71 % - 80 %
71 % - 80 %
Gizi Buruk
≤ 60%
≤ 70 %
≤ 70 %

Tabel  2. Tabel Baku Rujukan Penilaian Status Gizi Anak Perempuan
Anak Perempuan
Umur (Bulan)
Gizi Buruk (kg)
Gizi Kurang (kg)
Gizi  Baik  (kg)
Gizi Lebih (kg)
0
1.7
1.8 - 2.1
2.2 - 3.9
4.0
1
2.1
2.2 - 2.7
2.8 - 5.0
5.1
2
2.6
2.7 - 3.2
3.3 - 6.0
6.1
3
3.1
3.2 - 3.8
3.9 - 6.9
7.0
4
3.6
3.7 - 4.4
4.5 - 7.6
7.7
5
4.0
4.1 - 4.9
5.0 - 8.3
8.4
6
4.5
4.6 - 5.4
5.5 - 8.9
9.0
7
4.9
5.0 - 5.8
5.9 - 9.5
9.6
8
5.3
5.4 - 6.2
6.3 - 10.0
10.1
9
5.6
5.7 - 6.5
6.6 - 10.4
10.5
10
5.8
5.9 - 6.8
6.9 - 10.8
10.9
11
6.1
6.2 - 7.1
7.2 - 11.2
11.3
12
6.3
6.4 - 7.3
7.4 - 11.5
11.6
13
6.5
6.6 - 7.5
7.6 - 11.8
11.9
14
6.6
6.7 - 7.7
7.8 - 12.1
12.2
15
6.8
6.9 - 7.9
8.0 - 12.3
12.4
16
6.9
7.0 - 8.1
8.2 - 12.5
12.6
17
7.1
7.2 - 8.2
8.3 - 12.8
12.9
18
7.2
7.3 - 8.4
8.5 - 13.0
13.1
19
7.4
7.5 - 8.5
8.6 - 13.2
13.3
20
7.5
7.6 - 8.7
8.8 - 13.4
13.5
21
7.6
7.7 - 8.9
9.0 - 13.7
13.8
22
7.8
7.9 - 9.0
9.1 - 13.9
14.0
23
8.0
8.1 - 9.2
9.3 - 14.1
14.2
24
8.2
8.3 - 9.3
9.4 - 14.5
14.6
25
8.3
8.4 - 9.5
9.6 - 14.8
14.9
26
8.4
8.5 - 9.7
9.8 - 15.1
15.2
27
8.6
8.7 - 9.8
9.9 - 15.5
15.6
28
8.7
8.8 - 10.0
10.1 - 15.8
15.9
29
8.8
8.9 - 10.1
10.2 - 16.0
16.1
30
8.9
9.0 - 10.2
10.3 - 16.3
16.4
31
9.0
9.1 - 10.4
10.5 - 16.6
16.7
32
9.1
9.2 - 10.5
10.6 - 16.9
17.0
33
9.3
9.4 - 10.7
10.8 - 17.1
17.2
34
9.4
9.5 - 10.8
10.9 - 17.4
17.5
35
9.5
9.6 - 10.9
11.0 - 17.7
17.8
36
9.6
9.7 - 11.1
11.2 - 17.9
18.0
37
9.7
9.8 - 11.2
11.3 - 18.2
18.3
38
9.8
9.9 - 11.3
11.4 - 18.4
18.5
39
9.9
10.0 - 11.4
11.5 - 18.6
18.7
40
10.0
10.1 - 11.5
11.6 - 18.9
19.0
41
10.1
10.2 - 11.7
11.8 - 19.1
19.2
42
10.2
10.3 - 11.8
11.9 - 19.3
19.4
43
10.3
10.4 - 11.9
12.0 - 19.5
19.6
44
10.4
10.5 - 12.0
12.1 - 19.7
19.8
45
10.5
10.6 - 12.1
12.2 - 20.0
20.1
46
10.6
10.7 - 12.2
12.3 - 20.2
20.3
47
10.7
10.8 - 12.4
12.5 - 20.4
20.5
48
10.8
10.9 - 12.5
12.6 - 20.6
20.7
49
10.8
10.9 - 12.6
12.7 - 20.8
20.9
50
10.9
11.0 - 12.7
12.8 - 21.0
21.1
51
11.0
11.1 - 12.8
12.9 - 21.2
21.3
52
11.1
11.2 - 12.9
13.0 - 21.4
21.5
53
11.2
11.3 - 13.0
13.1 - 21.6
21.7
54
11.3
11.4 - 13.1
13.2 - 21.8
21.9
55
11.4
11.5 - 13.2
13.3 - 22.1
22.2
56
11.4
11.5 - 13.3
13.4 - 22.3
22.4
57
11.5
11.6 - 13.4
13.5 - 22.5
22.6
58
11.6
11.7 - 13.5
13.6 - 22.7
22.8
59
11.7
11.8 - 13.6
13.7 - 22.9
23.0


Tabel 3. Tabel Baku Rujukan Penilaian Status Gizi pada Anak Laki-laki.
Anak Laki-laki
Umur
Gizi Buruk (kg)
Gizi Kurang (kg)
Gizi Baik (kg)
Gizi Lebih (kg)
0
1.9
2.0 - 2.3
2.4 - 4.2
4.3
1
2.1
2.2 - 2.8
2.9 - 5.5
5.6
2
2.5
2.6 - 3.4
3.5 - 6.7
6.8
3
3.0
3.1 - 4.0
4.1 - 7.6
7.7
4
3.6
3.7 - 4.6
4.7 - 8.4
8.5
5
4.2
4.3 - 5.2
5.3 - 9.1
9.2
6
4.8
4.9 - 5.8
5.9 - 9.7
9.8
7
5.3
5.4 - 6.3
6.4 - 10.2
10.3
8
5.8
5.9 - 6.8
6.9 - 10.7
10.8
9
6.2
6.3 - 7.1
7.2 - 11.2
11.3
10
6.5
6.6 - 7.5
7.6 - 11.6
11.7
11
6.8
6.9 - 7.8
7.9 - 11.9
12.0
12
7.0
7.1 - 8.0
8.1 - 12.3
12.4
13
7.2
7.3 - 8.2
8.3 - 12.6
12.7
14
7.4
7.5 - 8.4
8.5 - 12.9
13.0
15
7.5
7.6 - 8.6
8.7 - 13.1
13.2
16
7.6
7.7 - 8.7
8.8 - 13.4
13.5
17
7.7
7.8 - 8.9
9.0 - 13.6
13.7
18
7.8
7.9 - 9.0
9.1 - 13.8
13.9
19
7.9
8.0 - 9.1
9.2 - 14.0
14.1
20
8.0
8.1 - 9.3
9.4 - 14.3
14.4
21
8.2
8.3 - 9.4
9.5 - 14.5
14.6
22
8.3
8.4 - 9.6
9.7 - 14.7
14.8
23
8.4
8.5 - 9.7
9.8 - 14.9
15.0
24
8.9
9.0 - 10.0
10.1 - 15.6
15.7
25
8.9
9.0 - 10.1
10.2 - 15.8
15.9
26
9.0
9.1 - 10.2
10.3 - 16.0
16.1
27
9.0
9.1 - 10.3
10.4 - 16.2
16.3
28
9.1
9.2 - 10.4
10.5 - 16.5
16.6
29
9.2
9.3 - 10.5
10.6 - 16.7
16.8
30
9.3
9.4 - 10.6
10.7 - 16.9
17.0
31
9.3
9.4 - 10.8
10.9 - 17.1
17.2
32
9.4
9.5 - 10.9
11.0 - 17.3
17.4
33
9.5
9.6 - 11.0
11.1 - 17.5
17.6
34
9.6
9.7 - 11.1
11.2 - 17.7
17.8
35
9.6
9.7 - 11.2
11.3 - 17.9
18.0
36
9.7
9.8 - 11.3
11.4 - 18.2
18.3
37
9.8
9.9 - 11.4
11.5 - 18.4
18.5
38
9.9
10.0 - 11.6
11.7 - 18.6
18.7
39
10.0
10.1 - 11.7
11.8 - 18.8
18.9
40
10.1
10.2 - 11.8
11.9 - 19.0
19.1
41
10.2
10.3 - 11.9
12.0 - 19.2
19.3
42
10.3
10.4 - 12.0
12.1 - 19.4
19.5
43
10.4
10.5 - 12.2
12.3 - 19.6
19.7
44
10.5
10.6 - 12.3
12.4 - 19.8
19.9
45
10.6
10.7 - 12.4
12.5 - 20.0
20.1
46
10.7
10.8 - 12.5
12.6 - 20.3
20.4
47
10.8
10.9 - 12.7
12.8 - 20.5
20.6
48
10.9
11.0 - 12.8
12.9 - 20.7
20.8
49
11.0
11.1 - 12.9
13.0 - 20.9
21.0
50
11.1
11.2 - 13.00
13.1 - 21.1
21.2
51
11.2
11.3 - 13.2
13.3 - 21.3
21.4
52
11.3
11.4 - 13.3
13.4 - 21.6
21.7
53
11.4
11.5 - 13.4
13.5 - 21.8
21.9
54
11.5
11.6 - 13.6
13.7 - 22.0
22.1
55
11.7
11.8 - 13.7
13.8 - 22.2
22.3
56
11.8
11.9 - 13.8
13.9 - 22.5
22.6
57
11.9
12.0 - 14.0
14.1 - 22.7
22.8
58
12.0
12.1 - 14.1
14.2 - 22.9
23.0
59
12.1
12.2 - 14.2
14.3 - 23.2
23.3
              Sumber : Departemen Kesehatan RI,2006
4.    Balita Bawah Garis Merah (BGM)
Balita adalah salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan lima tahun,atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. (Wikipedia, 2011)
Balita dengan Bawah Garis Merah (BGM) adalah balita dengan berat badan menurut umur (BB/U) berada di bawah garis merah pada KMS (Anonim, 2009).
Balita BGM tidak selalu berarti menderita gizi buruk. Akan tetapi, itu dapat menjadi indikator awal bahwa balita tersebut mengalami masalah gizi.
Gambar 1. Indikator KMS Bila Berat Badan Balita Dibawah Garis Merah.             
        Sumber : Referensi kesehatan,2008



B.   KERANGKA KONSEP







KARAKTERISTIK KELUARGA:
a.    Pendidikan formal keluarga
b.    Pendapatan keluarga
c.    Pola asuh
d.    Besar anggota keluarga
e.    Sanitasi lingkungan
 



Balita Berat Badan Di Bawah Garis Merah (BGM)
 




 



















Sumber          : Modifikasi Supariasa, 2001



 


                         =   Variabel yang diteliti
BAB III
METODE PENELITIAN
A.   Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah meneliti karakteristik keluarga balita berat badan dibawah garis merah (BGM).
1.    Tempat penelitian
Rencana penelitian akan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kuripan, Karena Puskesmas Kuripan merupakan Puskesmas dengan presentase balita berat badan di bawah garis merah (BGM) tertinggi di wilayah Lombok Barat  yaitu 283 (9,03%) balita BGM dari 3129 balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kuripan.
2.    Waktu penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2011
B.   Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif yaitu penelitian yang yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan secara sistematis dan akurat suatu situasi atau area populasi tertentu yang bersifat faktual, penelitian deskriptif dapat pula diartikan sebagai penelitian untuk memotret fenomena individual, situasi atau kelompok tertentu yang terjadi secara kekinian.  (Danim,2003)

    
C.   Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi terdiri atas sekumpulan obyek yang menjadi pusat perhatian yang dari padanya terkandung informasi yang ingin diketahui. (W. Gulo,2008)
Populasi dalam penelitain ini adalah semua keluarga balita BGM yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kuripan.
2.    Sampel
Sampel adalah himpunan bagian dari suatu populasi (W.Gulo,2008).
Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian keluarga balita dengan berat badan di bawah garis merah (BGM) yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kuripan.
Metode pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling yaitu accidental sampling, artinya dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks penelitian (Notoatmodjo,2010).
D.   Jenis Data dan Cara Pengumpulan Data
1.    Data primer
a.     Data mengenai karakteristik keluarga di peroleh dari hasil pengisian kuesioner.


2.    Data sekunder
a.    Data rekapitulasi balita BGM tahun 2009 yang diperoleh dari arsip Dikes Lombok Barat.
b.    Data mengenai berat badan balita dibawah garis merah diperoleh dari Buku KMS yang dimiliki balita yang melakukan penimbangan di posyandu.
c.    Data mengenai gambaran umum tempat penelitian dikumpulkan dengan mempelajari buku tahunan Puskesmas Kuripan.
E.   Cara Pengolahan Data
1.    Data primer
a.    Data tentang karakteristik keluarga yang meliputi pendidikan keluarga diolah dengan tabulasi dan disajikan dengan cara deksriptif berdasarkan tingkat pendidikan yaitu:
1)    Dasar : SD,MI,SMP,Mts
2)    Menengah : SMA,MA,SMK,MAK
3)    Tinggi: Diploma,Sarjana, Magister
b.    Data tentang karakteristik keluarga berdasarkan pendapatan keluarga diolah dengan tabulasi dan disajikan secara deksriptif berdasarkan kriteria:
1)    Miskin : < Rp.600.000,-
2)    Tidak Miskin : ≥Rp.600.000,-
c.    Data tentang Karakteristik Keluarga berdasarkan pola asuh anak diolah secara tabulasi dan disajikan secara dekstriftif berdasarkan katagorikan pola asuh anak yaitu:
1)     Pola asuh permisif
2)     Pola asuh otoriter
3)     Pola asuh otoritatif
d.    Data tentang karakteristik keluarga berdasarkan besar anggota keluarga diolah secara tabulasi dan disajikan secara dekstriftif berdasarkan kriteria :
1)    Keluarga Besar : > 4 orang
2)    Keluarga Kecil : ≤ 4 orang
e.    Data tentang karakteristik keluarga berdasarkan sanitasi lingkungan didapatkan dengan cara observasi dan wawancara dengan kuesioner. Kemudian diolah dalam microsoft exel dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi sehingga diperoleh data :
1)    Sehat    = >x+ 1 SD
2)    Tidak Sehat = < x- 1 SD
2.    Data Sekunder
a.    Data mengenai berat badan balita dibawah garis merah disajikan secara deskriftif.
b.    Data mengenai gambaran umum tempat penelitian dikumpulkan dengan mempelajari buku tahunan Puskesmas Kuripan dan disajikan secara deskriftif.
F.    Definisi Operasional
No.
Variabel
Definisi operasional
Cara pengukuran
Kriteria
Skala
1.     
Pendidikan keluarga
Pendidikan formal yang dimiliki keluarga  
 Kuesioner
-       Dasar : SD,MI,SMP,Mts
-       Menengah : SMA,MA,SMK,MAK
-       Tinggi: Diploma,Sarjana, Magister

Ordinal  
2.     
Pendapatan keluarga
Jumlah seluruh pendapatan yang
diperoleh oleh seluruh keluarga  dan digunakan oleh
keluarga tersebut.
Kuesioner
Tidak Miskin : ≥Rp.600.000,Miskin :
< Rp. 600.000
Nominal
3.     
Pola asuh
Interaksi orang tua dengan anak
Kuesioner
-       Pola asuh anak otoritatif
-        Pola asuh anak otoriter
-       Pola asuh Permisif



Ordinal
4.     
Besar anggota keluarga
Jumlah orang dalam keluarga
Kuesioner
-       Keluarga Besar(>4 orang)
-       Keluarga Kecil (≤4 orang)
Ordinal
5.     
Sanitasi lingkungan
Keadaan lingkungan
Kuesioner dan observasi
Sehat  :
 >x+ 1 SD
Tidak sehat: < x-1 SD
Ordinal  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar